Kalian
semua pasti tau dengan Peci/Kopiah/Songkok, terutama orank2 yg berada
di daerah mayoritas Muslim. hampir setiap orank yg beragama Islam di
daerah Asia menggunakan peci di setiap kegiatan keagamaannya bahkan di
kesehariannya, dari anak kecil sampai orank tua. oleh karena itu di
sini saya memuat ulank tulisan triwindya yg dimuat di Kaskus mengenai Sejarah Kopiah atau Peci,
Peci bukan hanya identitas agama tapi simbol nasionalisme. Ia juga
bukan milik Indonesia semata.*** PEMUDA itu masih berusia 20 tahun. Dia
tegang. Perutnya mulas. Di belakang tukang sate, dia mengamati
kawan-kawannya, yang menurutnya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala
karena ingin seperti orang Barat. Dia harus menampakkan diri dalam
rapat Jong Java itu, di Surabaya, Juni 1921. Tapi dia masih ragu. Dia
berdebat dengan dirinya sendiri. “Apakah engkau seorang pengekor atau
pemimpin?” “Aku seorang pemimpin.” “Kalau begitu, buktikanlah,” batinnya
lagi. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke
ruang rapat… Sekarang!” Setiap orang ternganga melihatnya tanpa bicara.
Mereka, kaum intelegensia, membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci
karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah. Dia pun memecah
kesunyian dengan berbicara: ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari
kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang
dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita.
Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini
sebagai lambang Indonesia Merdeka.” Itulah awal mula Sukarno
mempopulerkan pemakaian peci, seperti dituturkannya dalam Bung Karno
Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams.
Sukarno menyebut peci sebagai “ciri khas saya… simbol nasionalisme
kami.” Sukarno mengkombinasikan peci dengan jas dan dasi. Ini, menurut
Sukarno, untuk menunjukkan kesetaraan antara bangsa Indonesia (terjajah)
dan Belanda (penjajah). Sejak itu, Sukarno hampir selalu mengenakan
peci hitam saat tampil di depan publik. Seperti yang dia lakukan saat
membacakan peldoinya “Indonesia Menggugat” di Pengadilan Landraad
Bandung, 18 Agustus 1930. Dan peci kemudian menjadi simbol nasionalisme,
yang mempengaruhi cara berpakaian kalangan intelektual, termasuk pemuda
Kristen. Karena itulah, George Quinn dalam The Learner’s Dictionary of
Today’s Indonesia, mendefinisikan cap (peci) dengan mengambil contoh
Sukarno: Soekarno sat in the courtroom wearing white trousers, a white
jacket and a black cap (Sukarno duduk di pengadilan, memakai celana
putih, jas putih, dan peci hitam). Sebenarnya Sukarno bukanlah
intelektual yang kali pertama menggunakan peci. Pada 1913, rapat SDAP
(Sociaal Democratische Arbeiders Partij) di Den Haag mengundang tiga
politisi, yang kebetulan lagi menjalani pengasingan di Negeri Belanda:
Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara. Ketiganya
menunjukkan identitas masing-masing. Ki Hajar menggunakan topi fez Turki
berwarna merah yang kala itu populer di kalangan nasionalis setelah
kemunculan gerakan Turki Muda tahun 1908 yang menuntut reformasi kepada
Sultan Turki. Tjipto mengenakan kopiah dari beludru hitam. Sedangkan
Douwes Dekker tak memakai penutup kepala. Tampaknya Sukarno mengikuti
jejak gurunya, lebih memilih peci beludru hitam. Pengaruh Sukarno begitu
luas. Pada pertengahan 1932, Partindo melancarkan kampanye yang
diilhami gerakan swadesi di India, dengan menyerukan agar rakyat hanya
memakai barang-barang bikinan Indonesia. Orang-orang mengenakan pakaian
dari bahan hasil tenunan tangan sendiri yang disebut lurik, terutama
untuk peci –sebagai pengganti fez– yang dikenakan umat Muslim di
Indonesia. Peci lurik ini mulai terlihat dipakai terutama dalam
rapat-rapat Partindo. “Tapi Bung Karno tak pernah memakainya. Dia tetap
memakai peci beludru hitam, yang bahannya berasal dari pabrik di
Italia,” tulis Molly Bondan dalam Spanning A Revolution.
Sebenarnya, dari mana asal peci? Sukarno menyebut peci asli milik
rakyat kita mirip dengan yang dipakai para buruh bangsa Melayu. Belum
ada data penggunaan peci di kalangan buruh. Di Indonesia orang
menyebutnya peci. Orang Melayu di Malaysia, Brunei Darussalam,
Singapura, dan selatan Thailand, dan sebagian Indonesia menyebutnya
songkok. Menurut Rozan Yunos dalam “The Origin of the Songkok or Kopiah”
dalam The Brunei Times, 23 September 2007, songkok diperkenalkan para
pedagang Arab, yang juga menyebarkan agama Islam. Pada saat yang sama,
dikenal pula serban atau turban. Namun, serban dipakai oleh para
cendekiawan Islam atau ulama, bukan orang biasa. “Menurut para ahli,
songkok menjadi pemandangan umum di Kepulauan Malaya sekitar abad ke-13,
saat Islam mulai mengakar,” tulis Rozan. Asal songkok menimbulkan
spekulasi karena tak lagi terlihat di antara orang-orang Arab. Di
beberapa negara Islam, sesuatu yang mirip songkok tetap populer. Di
Turki, ada fez dan di Mesir disebut tarboosh. Fez berasal dari Yunani
Kuno dan diadopsi oleh Turki Ottoman. Di Istanbul sendiri, topi fez ini
juga dikenal dengan nama fezzi atau phecy. Di Asia Selatan (India,
Pakistan, dan Bangladesh) fez dikenal sebagai Roman Cap (Topi Romawi)
atau Rumi Cap (Topi Rumi). Ini menjadi simbol identitas Islam dan
menunjukkan dukungan Muslim India atas kekhalifahan yang dipimpin
Kekaisaran Ottoman.
Mungkin sekian sekilas asal usul Peci/Kopiah/Songkok yg serink kita
gunakan, bila ada kekurangan dalam tulisan ini semua Komentar yg
membangun sangat dibutuhkan,, Wassalam. ^^